Ragam  

Halo Pak Alhudri, Kata Pengamat Pendidikan Aceh Masih Payah, Anggarannya Melimpah Loh!

Siswa SMA yang ditangkap membolos oleh Satpol PP beberapa waktu lalu (foto: Serambinews.com)

BANDA ACEH | BeritaBagus – Sepekan terakhir, mutu pendidikan Aceh kembali menjadi perbincangan publik setelah Dinas Pendidikan Aceh dengan bangga membuat publikasi. Banyak siswa Aceh lulus seleksi masuk perguruan tinggi negeri tahun 2021.

Pengelola publikasi Dinas Pendidikan Aceh bahkan merilis berita yang menunjukkan kegembiraannya usai mendapat kabar banyak siswa Aceh lulus masuk perguruan tinggi negeri.

Dinas Pendidikan Aceh tampaknya merasa telah berhasil meningkatkan mutu pendidikan, setelah mendapat hasil dari seleksi masuk perguruan tinggi tersebut.

Humas Pendidikan pun berperan aktif merilis berita “prestasi” tersebut. Namun, rasa bangga Kepala Dinas Pendidikan Aceh Alhudri dan tim pembuat rilis-nya terhenti ketika Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) Prof Samsul Rizal mengungkap fakta mengejutkan terkait bobroknya mutu pendidikan Aceh selama ini.

Baca juga: Masih Soal Pendidikan Aceh

Baca juga: Rektor USK: Kualitas Pendidikan Aceh Sekarang Lebih Buram dari Kertas yang Buram

Rektor USK secara tegas mengatakan bahwa kondisi pendidikan Aceh saat ini sangat terpuruk dan belum ada perubahan seperti diharapkan. Padahal, anggaran yang dikucurkan Pemerintah Aceh untuk sektor pendidikan setiap tahunnya sangat besar.

Pernyataan Prof Samsul Rizal tentu bukan berdasarkan data abal-abal. Sebagai seorang akademisi dan rektor, ia tentu punya data valid terkait kondisi pendidikan di Aceh saat ini.

Tapi, siapa sangka, pernyataan rektor kampus terbaik di Aceh itu dibantah oleh Alhudri melalui Plt Kabid GTK Dinas Pendidikan Aceh, Muksalmina. Anak buah Alhudri itu bahkan menyindir bahwa Kampus USK bukan lembaga survei.

Dia membantah keras pernyataan Rektor USK yang menyebut mutu pendiidkan Aceh bobrok.

Baca juga: Mutu Pendidikan Jauh dari Harapan karena Aceh tak Punya Blue Print

Baca juga: Budaya “Siap Pak” Membuat Sekolah di Aceh tak Berdaya

BEM FKIP USK pun angkat suara untuk menjelaskan dan membuka mata pejabat di Dinas Pendidikan Aceh itu terkait bobroknya pendidikan.

Tidak ketinggalan, Pengamat Kebijakan Publik Aceh Dr. Nasrul Zaman ST MKes juga turut angkat suara terkait mutu pendidikan Aceh. Pernyataannya justru menguatkan pendapat yang disampaikan oleh Rektor USK dan BEM FKIP USK.

Dr. Nasrul Zaman mengungkap fakta yang membuat publik mengerti bagaimana mutu pendidikan Aceh saat ini. Ia berbicara berdasarkan data nilai rata-rata kelulusan yang diraih oleh para siswa Aceh dalam seleksi masuk PTN.

Berdasarkan data Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2021 pada Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) yang ada di PTN Wilayah Barat Indonesia, terungkap bahwa Aceh berada pada peringkat terbawah di Pulau Sumatera.

Baca juga: SMKN 2 Banda Aceh Kutip Uang Masuk Rp 2,6 Juta Per Siswa Baru

Mengutip Infoaceh.net, pengamat Kebijakan Publik itu menuturkan, dalam pengumuman hasil SNMPTN 2021 diketahui bahwa untuk bidang Sains dan Teknologi (Saintek), Aceh berada pada urutan ke 24 nasional dari 34 provinsi di Indonesia dan posisi terbawah untuk Sumatera.

Peringkat itu dihitung dari rata-rata nilai hasil SNMPTN 2021 yang dicapai oleh seluruh siswa-siswi Aceh yang berhasil masuk ke PTN se-Indonesia. Aceh meraih nilai rata-rata486.87 jauh sekali dari nilai rata-rata DKI Jakarta sebagai peringkat 1 nasional.

DKI Jakarta disebut mendapat nilai rata-rata 614.07, sementara peringkat 2 Yogyakarta dengan nilai rata-rata 613.73. Nilai rata-rata Aceh juga jauh dari nilai rata-rata yang diperoleh siswa-siswi Sumatera Utara yang berada pada peringkat 15, yaitu 526.23.

Untuk bidang Sosial dan Humaniora (Soshum), Aceh juga terpuruk di peringkat 26 nasional dengan nilai rata-rata 472.86 dan jauh seklai di bawah peringkat 1 Yogyakarta dengan nilai 615.51. Sedangkan Sumatera Utara peringkat nasionalnya 20 dengan nilai rata-rata 516.3 dan di Region Sumatera berada pada urutan kedua terendah setelah Aceh.

“Saya tidak mau masuk pada perbandingan yang lebih jauh misalnya tentang jumlah anggaran pendidikan Aceh dibanding dengan wilayah Sumatera lain yang lebih minim, namun mereka berada pada capaian yang lebih baik dari Aceh,” kata Nasrul Zaman pada Inforaceh.net, Kamis 1 Juli 2021.

Padahal, kata Dr. Nasrul Zaman, Aceh memiliki banyak keistimewaan. Salah satunya, Aceh punya anggaran melimpah untuk bidang pendidikan yaitu 20 persen APBA yang selalu terpenuhi setiap tahunnya.

Lebih lanjut Nasrul Zaman menuturkan, jika dibandingkan dengan kemampuan siswa-siswi Aceh masuk ke Perguruan Tinggi Negeri, maka benar adanya Aceh berada pada peringkat 10 besar nasional.

Ia pun membeberkan alasannya, yaitu disebabkan oleh banyaknya Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang berada di Aceh. Untuk tingkat universitas, PTN di Aceh ada 5, IAIN ada 3, ISBI 1, Politeknik 3, Sekolah Tinggi 1 dan Akademi 1.

“Dan Aceh adalah daerah dengan jumlah terbanyak PTN dari seluruh provinsi yang ada di Indonesia dengan jumlah penduduk yang hanya 5,3 juta jiwa,” ungkapnya.

Kalau kemajuan pendidikan Aceh hanya diukur pada jumlah siswa-siswi yang lulus masuk PTN, maka perlu dikoreksi. Pengamatan Kebijakan Publik Aceh ini juga mengoreksi argumen yang menyatakan pendidikan Aceh sudah berhasil, jika hanya melihat jumlah siswa-siswa yang berhasil masuk PTN, karena menurutnya argumen tersebut sangat lemah.

“Saya berharap semua kita, Pemerintah Aceh terutama dan penyelenggara pendidikan yang ada di Aceh marilah terus melakukan inovasi dan kreasi dalam upaya peningkatan pendidikan Aceh yang memang masih tertinggal tanpa perlu buru-buru mengusung dada karena pendidikan Aceh masih payah,” pungkasnya.[]