Nova – Prof Samsul Bagai Api dalam Sekam

Prof Samsul Rizal dan Nova Iriansyah (foto: repro)

ELIT politik di Aceh pasti merasakan “atmosfer” kebuntuan hubungan antara Gubernur Nova Iriansyah dengan Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) Prof Samsul Rizal selama ini. Entah kapan perseteruan itu bermula. Hanya mereka berdua yang tahu.

Tapi, riak-riak dan gejalanya bisa dirasakan oleh insting publik. Misalnya, masyarakat sulit sekali menemukan kedua tokoh ini berada dalam sebuah forum yang sama. Seperti, dalam sidang paripurna DPRA. Padahal rektor merupakan salah satu unsur Forkompimda yang selalu disebut dalam setiap rapat.

Begitu juga sebaliknya. Dalam upacara-upacara resmi lainnya, seperti memperingati Hari Pendidikan Daerah, yang biasanya dirangkai dengan Dies Natalis Universitas Syiah Kuala. Dulu-dulu, gubernur selalu hadir sebagai tamu kehormatan pada hari bersejarah bagi Aceh setiap tanggal 2 September.

Kerenggangan hubungan — kalau tidak boleh disebut perseteruan — antara Nova dengan Prof Samsul sedikit terasa kentara dalam dua hari terakhir, saat mana Gubernur Nova Iriansyah keberatan menerbitkan rekomendasi untuk USK.

Seperti banyak diberitakan media, USK membutuhkan selembar rekomendasi gubernur sebagai syarat untuk mendapatkan hibah lahan HTI yang diberikan Pemerintah Pusat.

Baca juga: Tak Keluarkan Rekom, Gubernur Nova Dianggap Hambat Unsyiah

Baca juga: Rektor USK: Kualitas Pendidikan Aceh Sekarang Lebih Buram dari Kertas yang Buram

Baca juga: Mutu Pendidikan Jauh dari Harapan karena Aceh tak Punya Blue Print

Kata berita, Pusat akan menghibahkan puluhan hektar lahan bekas hutan tanaman industri (HTI) di kawasan Blangbintang, Aceh Besar, untuk pengembangan kampus USK. Tapi, proses hibah itu terkendala gara-gara gubernur emoh mengeluarkan rekomendasi.

Ibarat api dalam sekam. Asapnya ada, api tak kelihatan. Kerenggangan hubungan antara kedua tokoh ini bisa berimbas kemana-mana.

Sebagai contoh, pernyataan rektor tentang kualitas pendidikan jenjang SMA/SMK yang disebutnya lebih buram dari kertas buram. Ini, diam-diam, juga telah membikin gubernur dan jajaran panas kuping.

Meski pernyataan itu benar, karena didukung data statistik dan disajikan secara ilmiah, anak buah gubernur tetap merasa gerah.

Mereka secara membabi buta melancarkan serangan balik. Ini terlihat dari reaksi sporadis para pimpinan dan sebagian staf Disdik Aceh yang melontarkan “serangan” terhadap rektor dan kelembagaan USK pada umumnya.

Perlawanan itu, baik yang dilakukan di forum-forum  internal maupun melalui tulisan di media-media amatiran yang pro penguasa. Mereka tidak bisa menerima pernyataan yang menyebut lulusan SMA berkualitas rendah dan tidak memiliki daya saing.

Sikap depensif jajaran Disdik yang selalu membanggakan angka 8 besar nasional sekaligus sebenarnya merupakan kegagalan mereka memahami duduk masalah sebenarnya. Anak buah Nova ini gagal paham terhadap pernyataan apa itu kualitas dan daya saing, karena mereka telah mabuk dengan euphoria 8 besar nasional.

Baca juga: Komisi VI DPRA Prihatin, Sarpras SMKN 1 Sabang Banyak yang Hancur

Mereka tidak bisa paham apa itu indikator mutu. Mereka juga sulit memahami daya saing.

Padahal dengan melihat sebaran lulusan anak-anak Aceh di berbagai perguruan tinggi negeri (PTN), dengan cukup mudah sudah terjawab pertanyaan soal mutu dan daya saing. Bahwa, anak-anak Aceh yang katanya masuk 8 besar nasional itu, sebagian besar lulusnya di PTN dengan nilai bobot rendah.

Kasarnya, secara umum mereka lulus di dalam daerah. Mereka tidak mampu bersaing untuk memperebutkan bangku di PTN besar dan ternama. Itulah daya saing.

Apa lagi bicara tentang bagaimana mereka setelah lulus nanti. Bagaimana kualitas sarjana — yang katanya 8 besar nasional — saat mereka menyelesaikan pendidikan 4 atau 5 tahun mendatang? Maaf, mungkin, mereka hanya akan menambah jumlah pemuda penggepit ijazah, alias pengangguran terdidik. Itulah daya saing. Mereka tidak memiliki itu.

Jadi, bagaimana Aceh pada masa yang akan datang akan mengelola sumber daya alam sendiri? Kapan anak Aceh akan menjadi Menteri atau memimpin Bappenas seperti cerita-cerita kebanggaan masa lalu yang sering diulang-ulang?

Apa yang akan terjadi berikutnya? Kita belum tahu. Yang pasti, sikap tidak puas dan semangat memusuhi terus subur dipelihara di balik kebanggaan angka 8 besar tersebut.

Belakangan sayup-sayup mulai terdengar anak buah Nova bakal melancarkan serangan balasan untuk Prof Samsul dan jajaran USK pada umumnya. Apa itu? Kita tunggu saja tanggal mainnya!