China Telah Ajukan Hak Paten Vaksin Covid-19 sebelum Status Pandemi Ditetapkan

Warga Wuhan China, asal Covid-19, berpesta tanpa masker (foto: detikcom)

AQshare.id –  Ternyata, ilmuwan militer asal China telah mengajukan hak paten vaksin Covid-19 sebelum WHO menetapkan status pandemi. Sayang, ilmuwan tersebut mati mendadak sehingga menyulitkan pengungkapan dugaan konspirasi China dalam kasus ini.

Ilmuwan itu bernama Yusen Zhou. Dia mengalami nasib tragis, ditemukan tewas secara misterius beberapa minggu setelah peristiwa pengajuan hak paten vaksin Corona. Zhou yang bekerja untuk Tentara Pembebasan Rakyat mengajukan dokumen hak paten atas nama partai politik China pada 24 Februari 2020 lalu.

Kasus Covid-19 untuk pertama sekali dilaporkan terjadi di Wuhan pada Desember 2019. Hingga hingga 11 Maret 2020, WHO belum menyatakan wabah tersebut sebagai pandemi hingga 11 Maret 2020.

Artinya, hak paten vaksin itu diajukan tidak lama setelah China mengakui adanya penularan Covid-19 antarmanusia. Itu terjadi dua minggu sebelum pandemi diumumkan secara resmi.

Baca juga: 823 Orang Divaksin Covid-19 di Komplek Kantor Gubernur Aceh

Baca juga: Indonesia tak Berangkatkan Jamaah Haji Tahun Ini

Baca juga: Malaysia Kembali Lockdown Total, Warga Dapat BLT Setara Rp 340 Ribu hingga Rp 1,7 Juta

“Ini adalah sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya, menimbulkan pertanyaan apakah pekerjaan (vaksin) ini mungkin telah dimulai jauh lebih awal,” kata Profesor Nikolai Petrovsky dari Universitas Flinders dikutip dari The Sun, Selasa (8/6/2021).

Zhou, diketahui, berhubungan erat dengan para ilmuwan di Wuhan Institute Virology (WIV), termasuk Shi Zhengli yang dijuluki sebagai ‘wanita kelelawar’. Namun, naasnya Zhou meninggal secara misterius pada Mei 2020, kurang 3 bulan setelah dia mengajukan paten untuk vaksin Covid-19.

Baca juga: Tiga Alasan Kenapa Lab Wuhan China Dicurigai sebagai Sumber Virus Corona

Menurut The New York Post, kematian Zhou itu hanya dilaporkan dalam satu laporan media China. Padahal, faktanya Zhou adalah salah satu ilmuwan terkemuka di negara tersebut.

Zhou juga diketahui memiliki ikatan kuat dengan Amerika Serikat dan melakukan penelitian pascadoktoral di Fakultas Kedokteran Universitas Pittsburgh.

Hubungan erat antara keduanya itu mendukung data intelijen AS yang dirilis pada Januari lalu, yang menyebut laboratorium Wuhan sedang melakukan aktivitas militer rahasia.

“Meskipun WIV menampilkan dirinya sebagai lembaga sipil, Amerika Serikat telah menetapkan bahwa WIV telah berkolaborasi dalam publikasi dan proyek rahasia dengan militer China,” kata intelijen tersebut seperti tilansir NYPost.

Kematian misterius Zhou dilaporkan sedang ditelusuri oleh satu tim yang dibentuk di Amerika Serikat. Presiden baru, Joe Biden, juga memberi perhatian serius terhadap penelitian asal-usul pandemi.[]

 

Sumber: detikcom