IDI tak Dilibatkan Tangani Stunting Aceh

Safrizal Rahman, ketua IDI Aceh (foto: repro)

Banda Aceh | BeritaBagus – Meski tak dilibatkan pada Gerakan Imunisasi dan Stunting Aceh (GISA), pengurus IDI setempat tetap menyambut baik kegiatan yang telah dilaunching Pemerintah Aceh baru-baru ini. Mereka membekali seluruh dokter guna mendukung program tersebut.

Menurut Ketua IDI Wilayah Aceh, Safrizal Rahman, angka stunting wilayah ini tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, stunting Aceh berada di urutan ke-3 nasional dengan angka 33,2 persen. Angka ini bahkan di atas rata-rata nasional yang hanya 24,4 persen.

Organisasi ini menyelenggarakan webinar guna membahas isu actual terkait stunting menghadirkan sejumlah narasumber kawakan yang umumnya dokter spesialis.

Kegiatan itu dimaksudkan untuk melakukan brainstroming pemahaman stunting kepada para dokter anggota IDI. Kata Safrizal Rahman, sebinar itu juga sebagai upaya menguatkan dokter di layanan primer dalam penanggulangan stunting.

Menurut IDI Aceh, penanganan stunting sebaiknya melibatkan seluruh pihak. Tidak bisa diselesaikan hanya dengan memperbaiki sistem kesehatan, namun juga perbaikan secara ekonomi masyarakat. “Kita harus mempunyai visi yang sama, menyelesaikan masalah stunting Aceh,” ujar Safrizal.

Ia mengajak seluruh komponen masyarakat untuk bahu-membahu saling bekerja sama menurunkan angka stunting Aceh. “Kita sehatkan anak-anak dan masyarakat Aceh. Kami siap mengerahkan segala kemampuan kami, bekerja sama dengan pihak manapun agar kesehatan Aceh yang lebih baik,” sambung Sarfizal.

Dikatakan, stunting sangat berpotensi menjadi masalah jangka panjang bagi Aceh jika penanganannya tidak dilakukan secara serius. Persoalan ini, kata dia, akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia (SDM) Aceh di masa depan dan masalah kesehatan lainya.

“Walaupun kami dari IDI belum dilibatkan secara langsung dalam program GISA, namun kami berinisiatif untuk memberikan pembekalan kepada tenaga dokter di setiap kabupaten/kota, baik yang bertugas di Puskesmas, rumah sakit, maupun seluruh Faskes apakah negeri maupun swasta,” kata ketua IDI Aceh.

IDI Aceh, sambunya, akan terus memberikan kontribusi untuk penanggulangan stunting di wilayah ini. “Kita tahu bahwa masalah kesehatan di Aceh tidak hanya stunting, angka kesakitan TBC juga masih tinggi dan masalah kesehatan lainya, kami IDI sudah menerbitkan SK pemberian Satuan Kredit Profesi (SKP) bagi dokter yang terlibat dalam penanggulangan TBC dan kami juga akan membentuk Tim Khusus Stunting di setiap IDI Cabang,” ujarnya.

Dalam webinar, dr Aslinar. Sp.A, M.Biomed, memberikan materi terkait bagaimana melakukan deteksi dini stunting. Ia mengajak seluruh dokter dan tenaga kesehatan untuk lebih memperhatikan kecukupan gizi remaja putri dan gizi Ibu hamil.

Dijelaskan, 1000 hari pertama kehidupan adalah Golden Periode yang harus mendapat perhatian. Kata dia, seluruh remaja putri harus diberikan tablet penambah darah agar ketika mereka nanti menikah dan hamil, maka kesehatanya akan lebih baik.

Demikian juga pada Ibu hamil. Ketua Aceh Peduli ASI ini menjelaskan, sejak hari pertama diketahui hamil, maka asupan gizi harus tercukupi, pemberian tablet tambah darah wajib dilakukan sampai melahirkan dan menyusui anak sampai berusia 2 tahun.

Diingatkan, penanganan stunting harus dilakukan secara konvergen dengan Intervensi Gizi Spesifik dan Intervensi Gizi Sensitif. “Intervensi Gizi Spesifik adalah kegiatan yang dilakukan dengan memberikan perbaikan gizi secara langsung baik kepada ibu hamil dengan resiko kurang gizi kronis, anak dengan stunting di usia kurang dari 24 bulan,” kata dr. Iflan, ahli gizi.

Sedangkan intervensi gizi sensitive, lanjutnya, adalah perbaikan di sektor penyebab tidak langsung stunting, seperti ketersediaan air bersih, sanitasi lingkungan yang baik, akses sistem kesehatan yang baik dan sosio ekonomi.

Dokter Ichsan M.Sc, Sp.KKLP, narasumber lainnya, mengatakan, stunting adalah kondisi dimana anak tumbuh dengan perawakan pendek akibat kekurangan gizi kronik. Banyak faktor yang menjadi penyebab.

Jika dilihat dari data kajian dan penelitian yang dilakukan beberapa pihak, kata dia, 30% penyebab stunting berasal dari masalah kesehatan. “Namun, 70% justeru diakibatkan masalah di luar kesehatan,” ujarnya pada webinar yang berlangsung Minggu (28/8/2022).

Karena itu, IDI menilai perlu sinergitas seluruh komponen masyarakat lintas sektor dalam penanganan stunting. Presiden Joko Widodo telah menerbitkan Perpres Nomor 72 tentang Percepatan Penurunan Stunting dengan konsep Konvergensi. Ditargetkan pada tahun 2024 Indonesia dapat menurunkan angka stunting dari 24,4 persen menjadi 14 persen.[]