Selain Kendala Saat Berkontrak, Proyek Fisik di Aceh Terancam Mangkrak karena Cuaca Ekstrem

Banda Aceh | BeritaBagus – Cuaca ekstrem yang melanda Aceh sejak 6 bulan terakhir mengancam penyelesaian berbagai proyek konstruksi di daerah ini, terutama paket MYC. Para rekanan tak bisa merampungkan pekerjaan, meski memiliki peralatan, tenaga, dan dana yang cukup.

Penyelesaian berbagai paket proyek di Aceh, baik yang dibiayai APBA maupun APBK, seperti pembangunan gedung, jalan, jembatan, dan pekerjaan kontruksi lainnya menghadapi hambatan sangat serius. Sementara tahun anggaran segera berakhir.

Kesulitan yang dihadapi para pengusaha jasa konstruksi di Aceh mengundang keprihatinan Jafaruddin Husin, seorang konstraktor senior daerah ini. Lalu, tokoh yang berperan melahirkan organisasi Asosiasi Kontraktor Aceh (AKA) itu menyampaikan saran dan pemikiran lewat awak media di café miliknya kawasan Syiah Kuala, Banda Aceh, Selasa (13/12/2022).

Baca juga: Organisasi Wartawan Disebut Terima Uang Tutup Mulut Kasus Korupsi Proyek PIKA Abdya

Baca juga: Pengamat: Jangan Ada Konspirasi Jahat Gagalkan Proyek MYC Peureulak-Lokop

Jafar mengatakan, bahwa pemikiran yang disampaikan itu tidak dilatarbelakangi interes pribadi. “Saya tidak punya pekerjaan konstruksi tahun ini. Ada satu proyek yang saya kerjakan, tahun lalu, sudah tuntas,” ujarnya memberi klarifikasi.

Kata Jafar, ia hanya bermaksud menyumbang pemikiran. Agar ada solusi terhadap para rekanan yang sedang menghadapi kendala dan gangguan cuaca ekstrem di lapangan. “Mereka bukan tidak mampu bekerja. Tapi kondisi di lapangan yang menyebabkan mereka tidak bisa bekerja. Bahkan ada rekanan yang sudah siap dengan material puluhan truk aspal siap tebar, tapi tiba-tiba hujan. Akhirnya mereka harus menanggung kerugian,” ujarnya.

Terhadap masalah yang dihadapi oleh sejumlah rekanan, terutama mereka yang mengerjakan proyek multi years contract (MYC), Jafar menyarankan agar Pj Gubernur, Bappeda, Dinas, dan pihak terkait lain agar membantu mencarikan solusi terhadap permasalahan tersebut. “Kita prihatin. Sebab, sejak bulan Agustus hingga saat ini, hujan terus dan banjir dimana-mana. Bagaimana mau kejar target,” kata Jafar.

Karena itu, ia menyarankan, agar pihak berwenang memberi kelonggaran waktu dan bebas denda untuk para pengusaha konstruksi yang menghadapi kesulitan karena gangguan cuasa ekstrem. “Mereka itu pejuang untuk pembangunan Aceh,” sambung Jafar.

Disebutkan, khusus paket MYC, punya problematika tersendiri. Meski disebut proyek dengan skema pembiayaan tahun jamak, beberapa paket pembangunan jalan yang dibiayai dengan skema MYC itu, sebelumnya juga sudah menghadapi kendala lain. Ada yang yang penanandatanganan kontrak dilakukan terlambat. Sehingga, waktu yang tersisa untuk menyelesaikan pekerjaan tinggal sedikit. “Tidak lama setelah teken kontrak, gangguan cuaca ekstrem terjadi. Faktor semacam ini harusnya menjadi kajian bersama, sehingga para kontraktor tidak dikorbankan secara sepihak,” kata Jafar.

Jafaruddin yang juga sering dipanggil Abi ini menyarankan agar pihak terkait melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan paket konstruksi yang mengalami kendala cuaca ekstrem. “Masalahnya, kesalahan bukan pada pengusaha. Tapi kondisi alam. Diaspal pun, jalan akan hancur kembali karena memang dalam kondisi hujan,” ujarnya. []