Kasus Prostitusi Online Nagan Raya Dilimpahkan ke Jaksa

Tersangka pelaku prostitusi online (foto: mitrapol)

SUKAMAKMUE | BeritaBagus – Polres Nagan Raya, Selasa (21/09/2021) pagi, menyerahkan seorang wanita yang diduga terlibat prostitusi online ke Kejaksaan setempat. Tersangka dengan inisial ZF (24Tahun) itu berstatus mahasiswi, merupakan warga sebuah desa di Kecamatan Kuala Kabupaten Nagan Raya.

Unit III Tipidter Sat Reskrim Polres Nagan Raya menyerahkan tersangka bersama sejumlah barang bukti berupa satu buah handphone merk Iphone 6 plus warna rose gold beserta sim card nomor 08533038xx46, print out akun Instagram atas nama Zuriyanti6 (milik tersangka), print out akun Facebook juga atas nama tersangka.

Selain itu, polisi juga menyerahkan barang bukti berupa uang tunai senilai Rp 900 ribu, satu handphone merk OPPO A1603 dengan nomor 08523112xx90, screenshoot Whatsapp berisi percakapan tersangka dengan pelapor terkait kegiatan prostitusi online, screenshoot Whatsapp berisi percakapan tersangka dengan Saksi Maisarah juga dalam kegiatan prostitusi online.

Baca juga: Prostitusi Online Terungkap, Tarif Artis TA Rp 15 Juta Sekali Kencan

Baca juga: Prostitusi Online, ABG 15 Tahun Dijual Rp 1 Juta Melalui Aplikasi MiChat

Kepada jaksa, juga diserahkan screenshoot aktivitas tersangka di Whatsapp, Instagram, dan Facebook. Semua dokumen itu disampaikan melalui surat dengan nomor BP/34.a/IX/2021/Reskrim, tanggal 27 Agustus 2021 yang diterima oleh Jaksa Penuntut Umum Atmariadi, S.H, M.H.

Kapolres Nagan Raya AKBP Prasetya Eko Setyawan SIK melalui Kasat Reskrimnya AKP Machfud SH MM mengatakan, pemberkasan tersangka kasus prostitusi online tahap II sudah selesai dilakukan dan dilimpahkan ke jaksa penuntut umum guna proses lebih lanjut ke persidangan.

Machfud mengatakan, tersangka dikenakan pasal 2 ayat (1) Jo pasal 27 UU RI nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang atau pasal 45 ayat 1 Jo UU RI nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik. Atas pebuatan itu, tersangka diancam hukuman pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun serta denda pidana paling sedikit 120 juta.[]