Karena Dendam, Mantan Pacar Paling Sering Sebarkan Foto Telanjang Pasangan

Ilustrasi

BANDA ACEH | BeritaBagus — Komisi Nasional (Komnas) Perempuan mengungkap fakta, orang yang berstatus mantan pacar paling dominan melakukan penyebaran foto telanjang bekas kekasihnya. Untuk kategori ini, jumlahnya mencapai 600-an kasus selama 2021.

Dari data Komnas Perempuan, ada dua jenis kekerasan yang dilakukan oleh pelaku yang berstatus mantan pacar. Yaitu, pelecehan seksual dan media sosial dan aksi pemerasan.

Ketua Komnas Perempuan Andy Yentriyani menyebut, dari 1.721 laporan sepanjang 2021, 617 di antaranya melibatkan mantan pacar sebagai pelaku. “Ada di cyber harassment untuk ranah publik dan sextortion (pemerasan seksual) pada ranah personal,” kata Andy dalam diskusi daring, Senin (12/7/2022).

Dijelaskan, hubungan yang cukup intim, seperti pacar ataupun mantan pacar, telah menjadi pola tersendiri dalam daftar pelaku kekerasan seksual siber. Setelah mantan pacar, kategori lain yang paling banyak dilaporkan yakni teman media sosial. Komnas menerima 389 aduan dari kasus tersebut.

Selanjutnya, ada kategori orang tidak dikenal dengan 324 kasus. Lalu, ada pacar dengan 218 kasus dan teman sebanyak 92 kasus. Total kekerasan seksual siber yang terjadi di ranah personal mencapai 855 kasus. Sementara di ranah publik sebanyak 866 kasus.

Jika menilik dari tindakan yang dilakukan, kata dia, kasus kekerasan seksual terhadap perempuan bisa melibatkan orang-orang yang memiliki hubungan personal atau impersonal. Jumlahnya hampir sebanding.

Motivasi paling dominan si pelaku dalam kasus ini, kata Andy, adalah balas dendam ataupun intimidasi.  “Untuk melakukan defamasi, merugikan kepentingan si perempuan, dengan maksud balas dendam ataupun intimidasi yang lain, adalah pola yang paling banyak kami temukan pada 1 tahun terakhir ini,” ujarnya.

Fakta serupa juga dilaporkan oleh ketua Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) Damar Juniarto.  Mereka menerima 508 aduan kasus.

Dari ratusan kasus tersebut, mayoritas yang menjadi korban adalah perempuan. “Dari sekian besar itu, motif relasi menjadi latar belakang kekerasan berbasis gender online berbentuk penyebaran konten intim,” ucapnya.[]