Jika tak Umumkan 10 Perampok APBA 2021, Pansus DPRA Dinilai Bersekongkol

Syakya Meirizal

BANDA ACEH | BeritaBagus – LSM Pemantau Dana Otsus Aceh, Syakya Meirizal, mendesak ketua Pansus Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) DPR Aceh untuk mengumumkan 10 aktor utama skandal appendiks dalam APBA 2021. “Kalau tidak, berarti telah terjadi persekongkolan dan pemufakatan jahat antara DPR Aceh dengan eksekutif,” ujarnya.

Pernyataan itu disampaikan Syakya dalam postingan video berdurasi 1.51 menit yang beredar luas di media sosial. Seperti video-video lainnya, aktivis yang dikenal sangat fokal mengkritik Gubernur Nova Iriansyah ini merekam percakapannya dari dalam mobil.

Dalam video kali ini, dengan suara lantang dan tegas, ia menyatakan bahwa pemberitaan media menyebutkan DPR Aceh telah menemukan nama 10 orang aktor utama yang terlibat dalam proyek siluman berkode appendiks. Mewakili sebagian rakyat Aceh, dia menuntut DPR Aceh khususnya Pansus PBJ untuk mengumumkan nama-nama 10 orang yang dikatakan sebagai perampok APBA itu secara terbuka kepada rakyat Aceh.

Baca juga: Pengadaan Mobil Dinas Aceh Terlalu Dipaksakan, Langgar Qanun tetap Lanjut

Baca juga: Jawaban Sekda Mengada-ada, Pimpinan DPR Aceh Gebrak Meja

Menurut Syakya, penyampaian nama-nama aktor utama skandal dana appendiks itu diperlukan agar seluruh rakyat Aceh mengetahui siapa saja 10 orang perampok uang rakyat dalam APBA 2021.

Baca juga: Rezim Nova Ingin Manfaatkan APBA-P untuk Goal-kan Anggaran Berkode Apendiks

Menyo han neutem umumkan secara terbuka, maka patot tacuriga bahwa temuan nyo hanya neupeugot keu bahan transaksi, persekongkolan dan permukatan jahat baru dengan eksekutif (kalau tidak bersedia mengumumkan secara terbuka, maka pantas dicurigai bahwa temuan tersebut hanya untuk dijadikan bahan transaksi, per persekongkolan dan permukatan jahat baru dengan eksekutif, red),” ujarnya.

Dia menegaskan, jika para anggota Pansus itu masih merasa diri sebagai wakil rakyat maka perlu segera mengumumkan 10 nama-nama tersebut kepada seluruh rakyat Aceh. “Jika perlu dipasang baliho dan iklan di media,” tutup Syakya mewakili sebagian rakyat Aceh.[]